Suka Tunda Waktu Makan Siang, Siap-siap Perut Jadi ‘Melar’

Suka Tunda Waktu Makan Siang, Siap-siap Perut Jadi 'Melar'Jakarta, Karena banyaknya pekerjaan dan berbagai alasan lainnya, seringkali waktu makan siang jadi terlewat. Hati-hati, studi ungkap kebiasaan ini tanpa disadari bisa bikin berat badan naik.

Suka Tunda Waktu Makan Siang, Siap-siap Perut Jadi ‘Melar’

Demikian disampaikan oleh para peneliti dari Brigham and Women’s Hospital di Boston dan University of Murcia. Kesimpulan ini didapat setelah mereka melakukan penelitian terhadap 420 responden di Spanyol.

Para responden ini mengikuti program diet selama 20 pekan. Dalam studi ini, mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk makan siang sebelum pukul 3 sore, sementara sisanya diminta untuk makan siang setelah waktu tersebut.

Setelah masa studi dilakukan, peneliti menemukan bahwa kelompok yang makan siang tepat waktu mengalami penurunan berat badan 30 persen lebih banyak, jika dibandingkan dengan kelompok yang makan siangnya terlambat.

“Studi ini menunjukkan bahwa waktu makan turut menentukan efektivitas penurunan berat badan. Hasil studi kami menemukan bahwa makan terlambat dapat membuat proses penurunan berat badan menjadi lebih lambat dan hasilnya pun kurang signifikan,” ujar peneliti Frank Scheer, seperti dikutip dari ABC Australia, Jumat (2/12/2016).

Masih diteliti lebih lanjut apa sebenarnya alasan ilmiah di balik hubungan antara waktu makan dan efektivitas penurunan berat badan ini. Namun diduga kuat hal ini adalah karena rasa lapar yang tertunda sehingga membuat Anda lebih kalap.

Studi dari University of Pennsylvania dan Carnegie Mellon University menyebutkan bahwa orang umumnya cenderung memesan makanan dengan kalori berlebihan, jika hal ini dilakukan di dekat waktunya makan atau malah ketika waktu makan sudah terlewat.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa memesan makanan ketika Anda sudah lapar, dapat mengarah pada konsumsi kalori berlebihan,” ujar penulis utama studi ini, Eric M. VanEpps.

Kenali Gejala Awal 5L untuk Atasi Anemia

Jakarta, Anemia atau kekurangan darah bisa memengaruhi kualitas hidup seseorang, apalagi jika dibiarkan secara terus-menerus. Kenali Gejala Awal 5L untuk Atasi Anemia.

Kenali Gejala Awal 5L untuk Atasi Anemia

Kenali Gejala Awal 5L untuk Atasi Anemiadr Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK, wakil ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PGMI) menjelaskan, anemia yang dibiarkan terus-menerus dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh dan kebugaran seseorang.

“Ketika daya tahan tubuh dan kebugaran berkurang bisa lebih sering terkena infeksi. Selain itu konsentrasi juga ikut menurun dan akhir-akhirnya berdampak pada prestasi atau dan produktivitas kerja,” ungkapnya di sela-sela acara Indonesia Bebas Anemia ‘Sehat Tanpa Anemia untuk Indonesia yang Lebih Produktif’ di Atrium Hall Pejaten Village, Jakarta Selatan, Sabtu (29/10/2016).

Nah untuk mengantisipasi kondisi ini, Anda perlu tahu gejala awal anemia atau yang biasa disebut dengan 5L.

“Gejala anemia bisa dikenali dengan 5L yaitu lesu, letih, lemah, lelah dan lalai. Jadi kalau sudah ada gejala segera periksa deh,” tutur dr Anie.

Ditambahkan dr Anie, anemia merupakan sebuah kondisi di mana kadar hemoglobin (HB) dalam sel darah merah tidak dapat mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, fungsi organ menjadi terganggu.

“Oksigen kan sangat diperlukan organ tubuh biar fungsinya bisa berjalan normal. Kalau kurang fungsi organ bisa terganggu,” sambung dokter yang berpraktik di RS St Carolus Serpong tersebut.

Ini Sebabnya Bisa Tak Timbul Gejala Meski Kadar Asam Urat Tinggi

Jakarta, Kadar asam urat tinggi, misalnya di atas 9 tapi pasien tidak pernah mengalami gejala apa-apa. Jika begitu, tak sedikit pasien yang merasa bingung karena gejala seperti nyeri dan bengkak kemerahan tak pernah muncul.

dr Martha Iskandar, SpPD dari RS Mayapada Lebak Bulus mengatakan jika berdasarkan pemeriksaan laboratorium, kadar asam urat dikatakan tinggi jika angkanya di atas 7. Namun, beberapa studi juga menunjukkan kadar asam urat dikatakan tinggi jika nilainya di atas 9.

Ini Sebabnya Bisa Tak Timbul Gejala Meski Kadar Asam Urat Tinggi

Ini Sebabnya Bisa Tak Timbul Gejala Meski Kadar Asam Urat TinggiNah, kadar asam urat tinggi bisa saja tidak menimbulkan gejala. Sebab, dr Martha mengatakan yang menyebabkan serangan asam urat pada sendi atau gout arthritis adalah delta (penurunan atau kenaikan kadar asam urat) yang drastis.

“Kalau terus 13,4 tidak akan serangan karena kadarnya stabil. Tapi ingat, walaupun tidak pernah mengalami serangan, kadar asam urat dalam darah yang tinggi harus tetap diobati karena akan mengena ke organ lain,” tutur dr Martha dalam live chat ‘Waspadai Asam Urat’ yang digelar detikHealth dan detikForum di Kantor Detikcom, Jl Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, Jumat (28/10/2016).

Misalnya pada ginjal, asam urat yang tidak terkontrol bisa menyebabkan nephropati yang lama-lama membutuhkan hemodialisa dan terbentuknya batu ginjal berupa kristal asam urat.

Ketika serangan asam urat terjadi, bisa timbul The King of Pain di mana nyeri tak tertahankan. Dikatakan dr Martha, dari skalai 1 sampai 10, skala The King of Pain bisa mencapai 8.

Kemudian, timbul gejala seperti merah di area yang nyeri dan bengkak. Misalnya pada kaki, sampai si orang yang bersangkutan tak bisa berjalan dan jika pada lutut misalnya, maka lutut tidak bisa ditekuk.

Penurunan kadar asam urat drastis bisa terjadi ketika pasien diberi obat dengan dosis berlebih. Sedangkan, peningkatan kadar asam urat drastis bisa terjadi misalnya karena konsumsi makanan tinggi purin berlebihan.

Pasien Leukemia, Mesin Apheresis Juga Punya Fungsi Lain

Jakarta, Penyakit kanker darah atau leukemia bisa menyebabkan peningkatan sel darah putih pada tubuh. Nah, mesin apheresis bisa membantu menurunkan sel darah putih sehingga kemoterapi bisa segera dilakukan.

Pasien Leukemia, Mesin Apheresis Juga Punya Fungsi Lain

Tak Hanya untuk Pasien Leukemia, Mesin Apheresis Juga Punya Fungsi LainNamun selain untuk pasien leukemia, mesin ini juga memiliki fungsi lainnya. Menurut Prof Dr dr Djajadiman Gatot Spa(K), Kepala Bagian Neurologi di RS Cipto Mangunkusumo, mesin apheresis memiliki fungsi lain seperti untuk donor darah apheresis dan penyakit neurologi.

“Untuk donor apheresis caranya sama tapi pendonor diberikan obat terlebih dahulu untuk meningkatkan jumlah produksi sel. Lalu diambilah sel darah yang muda untuk pasien (yang membutuhkan),” tutur Prof Gatot dalam acara serah terima mesin apheresis oleh Prudential ke RSCM di Pusat Ibu dan Anak, RSCM, Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (27/10/2016).

Lalu bagaimana fungsi mesin apheresis untuk penyakit neurologi? “Pada penyakit neurologi ada beberapa antibodi yang justru bersifat merusak dan tidak bermanfaat. Hal tersebut bisa menyerang sistem saraf,” ucap dr Endang Windiastuti, Spa(K) dari RSCM yang ditemui dalam acara yang sama.

Dengan menggunakan mesin apheresis, plasma darah yang mengandung toksin akan dibuang, dan plasma darah normal akan dikembalikan ke dalam tubuh.

Vaksin Dengue Hadir di Indonesia, Begini Tanggapan Kemenkes

Vaksin Dengue Hadir di Indonesia, Begini Tanggapan Kemenkes – Yogyakarta, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya memperbolehkan penggunaan vaksin dengue atau demam berdarah di Indonesia. Namun nampaknya vaksin ini belum dapat dijangkau secara luas.

Sebelum Indonesia, Meksiko menjadi negara pertama yang mendaftarkan Dengvaxia, nama dagang dari vaksin CYD Tetravalent Dengue Vaccine (CYD-TDV) buatan Sanofi Pasteur tersebut.

Vaksin Dengue Hadir di Indonesia, Begini Tanggapan KemenkesVaksin ini didaftarkan sebagai vaksin untuk pasien berusia 9-45 tahun dengan tingkat efektivitas mencapai 88,5 persen. Lantas apakah keberadaan vaksin ini juga akan membantu pasien DBD di Indonesia?

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyambut baik keberadaan vaksin bikinan Prancis ini. Hanya saja, pihaknya belum bisa memberikan kepastian terkait ketersediaannya secara luas.

“Saya belum bisa mengatakan lebih jauh karena harus itung-itung biaya, karena kan biayanya dari negara,” kata Nila saat ditemui di Puskesmas Banguntapan 2 Bantul, Rabu (26/10/2016).

Hal senada juga disampaikan Joko Murdianto, Kepala Divisi Vaksin Sanofi Indonesia saat peluncuran Dengvaxia tersebut baru-baru ini.

Ia juga menyerahkan keputusan kepada pemerintah terkait persebaran vaksin tersebut, utamanya di rumah sakit pemerintah.

“Biar pemerintah yang memutuskan, setahu saya untuk proses penyediaan vaksin di lingkup pemerintah harus dimulai dari rekomendasi ahli dulu,” paparnya seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Di Indonesia, vaksin dengue ini disarankan untuk anak berusia 9-16 tahun, yaitu sebanyak tiga kali, dengan interval enam bulan.

“Vaksin ini efektif melawan empat jenis serotipe virus dengue, yang dapat membantu mengurangi beban penyakit tahunan di Indonesia,” ujar Joko.

Sayangnya, karena harganya masih terbilang mahal, vaksin ini baru bisa diperoleh di rumah sakit swasta saja.

Tekan Risiko Kematian, Bayi Dianjurkan Tidur Seruangan dengan Orang Tua

Tekan Risiko Kematian, Bayi Dianjurkan Tidur Seruangan dengan Orang Tua – Jakarta, Dalam sebuah pedoman baru yang dikeluarkan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), bayi dianjurkan untuk tidur satu ruangan bersama orang tuanya minimal sampai berusia enam bulan. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadi kematian mendadak yang dikenal juga dengan sebutan sudden infant death syndrome (SIDS).

SIDS sendiri dipicu ketika bayi kesulitan bernapas di dalam tidurnya karena tercekik oleh benda-benda seperti bantal, guling, mainan atau memang ada masalah pernapasan. Dalam setahun AAP mencatat bisa ada sekitar 3.500 bayi meninggal karena SIDS dan itu baru di Amerika saja.

dr Lori Feldman-Winter dari Cooper Medical School, Rowan University, selaku perumus pedoman mengatakan ketika bayi tidur seruangan dengan orang tua risiko untuk SIDS ini bisa berkurang hingga 50 persen. Hanya saja ia menekankan tidur namun tetap dilakukan terpisah antara bayi dengan orang tua bukan satu kasur.

Tekan Risiko Kematian, Bayi Dianjurkan Tidur Seruangan dengan Orang Tua

Tekan Risiko Kematian, Bayi Dianjurkan Tidur Seruangan dengan Orang Tua
“Tidur di kasur yang sama justru berpotensi untuk terjadinya SIDS terutama pada bayi di bawah usia empat bulan yang prematur atau berat badan lahir rendah,” kata dr Lori seperti dikutip dari Reuters, Selasa (25/10/2016).

Disarankan agar bayi tidur di atas permukaan lembut yang tak terlalu empuk tanpa perlu ada bantal, guling, atau seprai. Tidurkan bayi dengan posisi telentang agar aliran udara bisa bebas keluar masuk.

“Pedoman yang baru menggarisbawahi pentingnya menempatkan bayi dengan posisi telentang setiap kali tidur siang atau malam, di rumah, atau di tempat nenek. Taruh bayi dalam keranjangnya tanpa bantal, selimut kelonggaran, atau objek lunak lain,” kata spesialis anak dr Fern Hauck dari University of Virginia.